Langsung ke konten utama

Mengapa Rasanya Berbeda?

Suasana malam hari di bus kali ini membuat Saya menjadi produktif. Didukung dengan lampu utama di dalam bus yang "berganti" shift dengan lampu biru dan kuning kecil untuk tetap menerangi ruang kecil berjalan ini.
Sejak bus ini berjalan, di dalam hati Saya terbesit perasaan yang mengganjal. Bukan, bukan tidak senang karena pulang. Bukan juga untuk pertanda buruk, pun bukan tidak tenang karena banyak tugas yang harus dikumpulkan setelah liburan ini. Perasaan ini seperti seorang anak kecil yang sedang berusaha mencari jati dirinya diperantauan yang juga sesak akan rindu terhadap rumah. Bagaimana ya cara mendeskripsikan melalui kata-kata. Intinya begitu lah. 
Apakah kalian merasakan hal yang sama?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Literasi Finansial

  Tahukah teman-teman apa itu “Literasi Finansial”? Banyak definisi yang menjelaskan tentang istilah literasi finansial, sebenarnya apa itu literasi finansial? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi artinya kemampuan menulis dan membaca. Finansial artinya mengenai (urusan) keuangan. Secara keseluruhan, literasi finansial (keuangan) adalah suatu individu atau seseorang yang memiliki kemampuan dalam mengelola, menginvestasi dan mengatur keuangan secara bijak dan sesuai kebutuhan demi keberlangsungan dan kesejahteraan hidupnya. Literasi finansial merupakan salah satu kunci ekonomi untuk menyambut kehidupan baru di era New Planet agar dapat bertahan hidup. Setiap individu atau seseorang yang sudah mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya harus mampu mengetahui tentang literasi finansial.   Menurut otoritas jasa keuangan (OJK), literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pe...

Bergandeng Tangan

Dulu saat SD ketika Saya melihat atau mendengar kisah anak-anak seumuran Saya  yang tidak seberuntung Saya, terutama dalam hal pendidikan, kerap membuat Saya menangis saat itu juga karena tersentuh dan di dalam hati kecil membuat Saya lebih banyak bersyukur kepada Allah, membuat Saya termotivasi dan sedikit berjanji kepada diri Saya sendiri untuk belajar jauh lebih keras lagi atau meninggalkan kebiasaan buruk seperti malas-malasan. Namun rasa itu hanya sementara dan perlahan menghilang, Saya pernah bertanya kepada Bapak dan Ibu bagaimana cara menumbuhkan rasa itu lagi, jawab beliau adalah "Yasudah diingat lagi saja kisahnya, kamu akan termotivasi lagi." Sudah, sudah Saya coba untuk mengingat lagi, termotivasi lagi tapi hanya secuil rasa. Selebihnya? Yasudah biasa saja. Sampai saat itu Saya sudah bosan apabila mendengar kisah seperti itu. Bukan berarti Saya tidak respect lagi dengan hal seperti itu. Tetap Saya dengarkan, Saya jadikan pelajaran untuk lebih banyak mengucap syuk...