Dulu saat SD ketika Saya melihat atau mendengar kisah anak-anak seumuran Saya yang tidak seberuntung Saya, terutama dalam hal pendidikan, kerap membuat Saya menangis saat itu juga karena tersentuh dan di dalam hati kecil membuat Saya lebih banyak bersyukur kepada Allah, membuat Saya termotivasi dan sedikit berjanji kepada diri Saya sendiri untuk belajar jauh lebih keras lagi atau meninggalkan kebiasaan buruk seperti malas-malasan. Namun rasa itu hanya sementara dan perlahan menghilang, Saya pernah bertanya kepada Bapak dan Ibu bagaimana cara menumbuhkan rasa itu lagi, jawab beliau adalah "Yasudah diingat lagi saja kisahnya, kamu akan termotivasi lagi."
Sudah, sudah Saya coba untuk mengingat lagi, termotivasi lagi tapi hanya secuil rasa. Selebihnya? Yasudah biasa saja. Sampai saat itu Saya sudah bosan apabila mendengar kisah seperti itu. Bukan berarti Saya tidak respect lagi dengan hal seperti itu. Tetap Saya dengarkan, Saya jadikan pelajaran untuk lebih banyak mengucap syukur kepada Allah. Tapi Saya bosan dengan rasa hambar yang diciptakan setelah seminggu, dua minggu, satu bulan, atau satu tahun setelahnya.
Lalu tiba-tiba pintu hati Saya terketuk oleh satu hal. Selama ini Saya telah banyak menolong banyak sekali ciptaan Allah, melalui sebuah aplikasi di mana disitu kita bisa berbagi rezeki kita kepada orang, atau yang lain, yang lebih membutuhkan. Disitu kita diberi tahu bagaimana perkembangan orang yang kita tolong, misalnya adalah orang yang kita tolong adalah orang yang sakit keras. Kita bisa tahu bahwa perlahan dia sudah sembuh berkat sedikit rezeki yang kita bagi kepadanya. Disitulah Saya menemukan kebahagiaan yang luar biasa yang sekarang baru Saya sadari! Baru sadar cara menghilangkan rasa hambar itu tadi. Hingga saat ini Saya merasa bahagia sekali dan selalu bersyukur apabila mengingat bahwa orang yang dulu Saya tolong dengan dana sepuluh ribu rupiah sekarang keadaannya jauh lebih baik dan sembuh.
Di sini Saya menyadari satu hal, "hanya" dengan berbagi, berapun jumlahnya, kita bisa selalu merasakan dua rasa syukur sekaligus, yang pertama bersyukur karena orang yang kita tolong bisa merasakan "hidup" lagi (hidup disini bukan selalu tentang nyawa), dan yang kedua adalah bersyukur karena Allah memberi kita lebih sehingga lebih itu dapat kita bagikan ke orang yang sedang membutuhkan itu tadi.
Bukan berarti Saya tidak akan tersentuh atau lebih merasa bersyukur apabila mendengar kisah seseorang yang tidak seberuntung Saya. Tapi ya itu tadi, dengan berbagi, kita bisa merasakan rasa syukur itu tadi sampai kapanpun, karena kita berhasil menolong orang. Mungkin berbagi tidak selalu soal uang, berbagi doa bisa juga kan?
"Saat sedih datang, berikan yang kamu miliki untuk yang tidak seberuntung kamu. Percaya, rasanya menyembuhkan"-NCTHI
Komentar
Posting Komentar